• Jl. Soka
  • 03665511035
  • pengl060380@gmail.com
INFO
  • Selamat Datang di Situs Resmi Segitiga Emas Desa Penglumbaran, Susut, Bangli.  Kreatif dan Inovatif menuju Desa Mandiri

Sejarah Desa

26 Agustus 2016 Admin Desa Penglumbaran Dibaca 41.580 Kali

                 Mengenai pemberian nama Desa Penglumbaran sampai sekarang  belum jelas asal usulnya, tetapis secara leksikal Penglumbaran berakar Kata  “ Umbar   “ atau “ Mengumbar “ artinya memberikan lepas disuatu tempat / Daerah misalnya Binatang ternak . Jadi Penglumbaran berarti Tempat / Daerah Pengembala Ternak  atau Tempat / Daerah yang sangat cocok untuk pemeliharaan Ternak .

Selanjutnya berdasarkan tinjauan historis pemberian nama Desa Penglumbaran mempunyai sejarah yang cukup unik.

Berdasarkan  “ Pepakem Bangli  “ bahwa pemberian nama Desa Penglumbaran pada mulanya adalah untuk menyebut sebuah Daerah sebagai tempat pengembalaan kerbau . Ternak Kerbau yang dipelihara itu merupakan sisanya setelah sebagian dipergunakan untuk kepentingan pelaksanaan Upacara di Pura Kehen Bangli. Adapun batas arial dari pemeliharaan ternak kerbau tersebut  : Batas utaranya sampai SD ( Sekolah Dasar ) I Tiga. Sekarang dimana pada batas utara areal peternakan tersebut dibuatan sengkedan ( pangkedan dalam bahasa Bali ) yang menunjang dari Barat ke Timur sampai ditepi Sungai disebelah Timur Dusun Tiga untuk menghidari agar Krbaunya tidak pergi ke Utara, sedangkan Batas Selatannya adalah sampai pada sebelah Utara Pura Dalem Penglumbaran Kawan, disana dibuatkanPagar dari barat sampaik ke Timur untuk menghidari agar Kerbaunya lewat ke Selatan areai tersebut Sepenuhnya adalah milik ( Duwe Puri ) Kilian Bangli Penglumbaran yang dimaksud pada waktu itu adalah masih jadi satu antara Penglumbaran Kawan  dengan Penglumbaran Kangin  dan Penglumbaran Anyar ( Desa Tiga ).

                Sebagai bukti historis yang masih ada sampai sekaran adalh adanya Pura Penyngsungan yang terdapat di tepi Selatan Jalan Dusun Tiga Kangin wilayah Desa Tiga ( lihat peta lokasi Desa Penglumbaran). Konon tempat tersebut merupakan tempat Pemujaan Dewi Ludra agar Ternak yang dipelihara disana dapat hidup dan berkembang biak dengan baik ( sekarang Pura tersebut diamong )disungsung oleh masyarakat ( Penglumbaran Kangin dan Penglumbaran Anyar  ) dibuatkannya daerah peternakan tersebut dimaksudkan untuk memudahkan memelihara kerbau guna kepentingan Upacara di Pura Kehen, selanjutnya tadisi tersebut sudah mulai sejak Pemerintahan Raja Bangli yang pertama yang bernama I Dewa Gede Den Bencingah . Menurut Buku sejarah Bali yang diterbitkan oleh Departemen Agama Hindu Propinsi Daerah Tingkat I Bali kerajaan Bangli diperkirakan berdiri tahun 686 (abad ke 17 ) setelah runtuhnya Kerajaan Gelgel. Daerah Peternakan ini mulai berakhir pada waktu Kerajaan Bangli diPerintah oleh I Dewa Gede Taman, karena sudah mulai dengan cara mudah untuk mencari Kerbau guna kepentingan Upacara . Untuk jelasnya kami cantumkan pula urutan Raja – raja Bangli yang pernah memerintah Kerajaan Bangli :

Raja  1. I   . Dewa Gede Den Bencingan

I I . Dewa Ayu Den Bencingah

III. I Dewa Gede Tangkeban

  1. I Dewa Gede Oka

 I Dewa Agung Cokorde

  1. I  Dewa Gede Putu

VII.   I  Dewa Gede Rai

VIII.  I  Dewa Gede Alit ( beberapa tahun )

  1. I Dewa Gede Taman

 X .     Anak Agung Ketut Ngurah

Selanjutnya sesuai dengan perkembangan sejarah Desa  maka dengan terbentuknya dan adanya pembagian wilayah Desa oleh Raja Bangli ( I Dewa Gede Taman ) daerah peternakan ini dijadikan sebuah Desayang terdiri dari 8 ( delapan ) Banjar Adat, tetapi  secara adminstrasi Penglumbaran yang sekarang karena yang paling dulu masih menjadi satu. Penglumbaran yang sekarang  karena yang paling dulu adalah Penglumbaran Kawan dan selanjutnya karena yang menjadi Kepala Desa  yang Pertama bersal dari Penglumbaran Kawan maka Desanya pun diberikan nama Desa Penglumbaran. Dari 8 Desa / Banjar Adat sebagaimana disebutkan diatas kenyataannya sekarang hanya terdapat 8 Banjar Dinas dan 7 Desa /Banjar Adat.

Adapun yang pernah menjabat Pimpinnan  / Perbekel / Kepala Desa Penglumabran dari tahun 1946 sampai sekarang adalah sebagi berikut :

I      . Ida Kakiang Gunung

II     . Ida Aji Lempung

III    . Ida Aji Gunung

IV    . Ida Bagus Benceng

V     . I Wayan Rantun

Setelah uraian ringkas mengenai pemberian nama Desa Penglumbaran dan perkembangannya sebagai sebuah Desa yang otonum, perlu pula penulis tambahkan disini bahwa mengenai tahun masa Pemerintahan dari Raja – raj Bangli belum ada bukti – bukti sejarah yang autentik.

                Selanjutnya kami uraikan sejarah leluhur / Nenek Moyang mengenai asal usul dari masing – masing Dusun / Banjar.

1.Dusun/ Banjar Penglumbaran Kawan

Pada  mulanya para Leluhur  masyarakat Dusun Penglumbaran Kawan hanya berjumlah 6 ( enam) orang yang merupakan para oknum / abdi dari Kerajaan Bangli yang memang sangat disayang oleh karena itu sebagai tanda jasa atas pengabdiaannya oleh Raja Bangli ( Dewa Ayu Den Bencungah ) diberikan tempat di Penglumbaran Kawan sekarang, seluas 11 ha  dengan  tugas utamanya sebagai pemelihara ternak kerbau.

  1. Dusun / Banjar TigaK Kawan

                Sesuai dengan informasi yang kami dapat kami peroleh bahwa masyarakat Dudun Tiga Kawan berasal dari Penglipuran . Menurut penuturan dari I Wayan Margi satu – satunya orang tua yang masih hidup sampai sekarang mengungkapkan, Tiga Kawan semula merupakan wilayah Desa Tiga dan masih berupa hutan lebat . Kemudian oleh Mekel Tiga disarankan kembali oleh Raja Bangli . Mengingat antara Mekel Tiga dengan Mekel Penglipuran bersahabat. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi sebelum Gunung Batur meletus  atau diperkirakan sekitar tahun 1971. Mengenai luas areal tersebut sekitar 47 ha lebih yang semula ditempati oleh 15 KK, sehingga sampai sekarang ayah gedenya berjumlah 15 KK, menurut asal usul masyarakat Penglipuran berasal dari Bayung  yang merupakan keturunan Bali Aga, maka masyarakat Tiga Kawanpun adat istiadatnya masih persis  Desa Bayng .

3.Dusun / Banjar Serai, Kembangmerta dan Temen

                Dalam uraian ini ketiga Dudun ini dijadikan satu, karena sesuai dengan asal usulnya nenek moyangnya berasal dari daerah yang sama yaitu : dari Tanggahan Peken, Desa Sulahan yang semula berdomisili Serai berjumlah 7 KK, termasuk Mekel Tanggahan Peken  demikian dikemukan oleh I Wayan Rantun ( Kepala Desa Penglumbaran ). Dengan tujuan untuk mendirikan tempat hidup yang lebih baik , tapi sebelumnya telah ada yang berdomisili disana  1 ( satu  KK. Yang sesuai dengan asalnya dari Desa Serai Belah Tanges Kintamani, konon menurut cerita ia adalah abdi di Puri Kilian Bangli, oleh karena itu diberikan lah tempat berdomisili yang sepenuhnya merupakan milik  ( Duwe Puri Kilan Bangli ).Deangan demikian wajarlah nama Dusun itu diberikan nama  “ Dusun Serai “ ( sekarang ). Kemudian makin lama di Serai sudah kepenuhan, maka sebagian masyarakat pindah ke Barat dan terbentuklah Dusun Kembangmerta,sesuai dengan maksudnya Kembangmerta ( Bunga Kehidupan ) karena di daerah ini merupakan tempat hidup yang baik bagi kehidupan masyarakat selanjutnya.  Kemudian di daerah ini penuh ,maka  sebagaian  masyarakat pindah  ke barat  dan berdomosili di  Dusun  /Banjar Temen sekarang. Namum  dalam  uraian ini  sangat  perlu  diisi dengan  uraian tambahan mengenai  pemberian Dusun /Banjar  Temen. Temen dalam bahasa balinya berarti “ Seken “ atau “ Jelas “dalam bahasa Indonesia. Kata itu mempunyai sejarah tersendiri , karena masyarakat Temen menurut asal usul nenek moyang nya terbagi dua bagian selatannya merupakan pelarian dari Tenganan Karangasem dan Cagan Gianyar. Hal itu terjadi pada jaman Kerajaan Bangli, dimana pada masa itu antara Raja – raja di Bali terjadi pembrontakan – pembrontakan , sehingga  banyak masyarakatnya yang terpaksa harus mengungsi keluar  wilayah kerajaan untuk mendapat perlidungan . Begitu pula halnya dengan masyarakat  dengan Dusun disebelah selatan yang meminta perlindungan Raja Bangli diterima dengan baik . Karena dengan tegas telah menyatakan diri untuk hidup dan bersatu dengan masyarakat Bangli, maka disebutlah “ Temen “. Bukti historisnya sampai sekarang ada berupa keris yang dibawa oleh leluhurnya dari Tenganan dulu, dan begitu pula dalam pelaksanaan upacara ngaben beberapa KK, dari masyarakat Dusun Temen bagian Selatan ini tidak memakai tempat api ( Tatakan api  dalam bahasa Bali )  dan ia lansung membakar mayat diatas lubang kuburan, karena menurut cerita bahwa dialah yang memiliki Pulau Bali ini  ( Asli ), makanya sering disebut “ Bali Age” oleh karena itu Dusun Temen merupakan satu Desa Adat.

  1. Dusun Banjar Seribatu

                Berdasarkan informasi  yang penulis terima dari beberapa informasi yaitu :1. I Nyoman Kita ( Bendesa Adat Seribatu ), 2. I Nengah Diara ( Penyarikan Seribatu ), 3. I Wayan Mentik ( Tokoh Tua Dusun Seribatu ) dijelaskan bahwa berdasarkan Raja Purana Batur masih dibawah  ( sekitar Danau Batur sekarang ) muncullah seorang Pemimpin adat yang sangat sakti yang lasim dipanggil oleh masyarakatnya di Banjar Lebah dengan sebutan nama “ Jero Gede Alitan ) karena saktinya tidak ada msyarakat yang berani menentang, apalagi menentang dipanggil saja sudah sakit . Oleh karena demikian masalahnya oleh anggota masyarakat melaporkan kepada Mekel Banjar Lebah, maunya Jero Gede Alit  ini dipanggil   oleh Mekel Agung Banjar Lebah untuk dihadapkan kepada forum ( rapat ) masyarakat Banjar Lebah dengan maksudagar Jro Gede Alit tidak mengulangi perbuatan yang  serupa . Tapi akhirnya karena Jro Gede Alit juga takut kepada Mekel Agung untuk dihadapkan kedepan forum masyarakat Banjar Lebah beliau kemudian pergi dengan diiringi oleh 11 KK, dari warga masyarakatnya termasuk didalamnya 2 orang peminpin lagi yaitu : Jro Kelih Kartio ( Bendesa Adat Banjar Lebah ) dan Jro Balian Desa pergi bersama – sam untuk menghadap kepada Raja Bangli ( I Dewa Gede Den Benccingah ) untuk bisa diterima sebagai abdi Kerajaan . Kepergian beliau menghadap Raja Bangli belumdiketahui oleh masyarakat Banjar Lebah maka setelah 35 hari lamanya beliau tidak juga kembali ke Banjar Lebah. Dan Mekel Agung mengambil keputusan untuk mengutus masyarakatnya pergi mencari Jro Gede Alitan . Dengan menyebar kesegala Penjuru diantaranya ada yang diguliang, ke Ponggang, ke Temaga dan ada juga yang ke Bangli. Akhirnya dari utusan yang ke Banglilah yang mempunyai Jro Balian ada disana ( di Bangli ) . Dalam pernyataan nya Jro Gede Alitan tetap pada pendiriannya tidak mau kembali ke Batur. Oleh karena itu Raja Bangli mengutus Jro Gede Alitan untuk pergi keBarat Laut dari Kota Bangli sekarang yang cocok sebagai tempat pemukiman . Perintah tersebut diterima oleh Jro Gede Aliatan sambil menangis, kemudian sampai beliau di Gunung Sari ( Tanggahan Gunung sekarang ) disana beliau dipelihara ( dirumrum ) oleh Mekel Wangun. Selama disana beliau mendirikan tempat persembahyangan   ( Merajan ) yang sekarang dikenal dengan nama Pura Bukutan ( Sekarang ) dan juga sebagai peletak dasar bangunan Pura Bale Agung Desa Adat Seribatu di Tanggahn Gunung . Kemudian setelah 2 tahun beliau tinggal di Gunung Sari yang mempunyai keadaan Daerah persawahan, dan anehya bahwa beliau kemudian pergi kearah  Utara dan tiba diantara perbatasan Dusn / Banjar  Serai  dengan Seribatu sekarang. Disana beliau mengadakan perjanjian dengan Mekel Kembangmerta bahwa Daerah yang ke Utara menjadi milik Jro Gede Alitan sampai ke Maletgusti  sekarang  dan Mekel Kembangmerta menguasai daerah  bagian Selatan. Sebagai tanda persahabatan maka kedua pemimpin ini sama – sama menanam andong merah  ( andong bang dalam bahasa balinya ) maka sekarang dapat dibuktikan bahwa tempat itu ada  dua buah Pura Penyungsungan dengan kedudukan yang sejajar sebagai tanda batas wilayah Desa Adat. Karena keberadaan beliau sebagai orang yang sakti, maka setiap sudut wilayah Desa Adat Seribatu yang dulu bernama “ Batu Sari “ dibatasi oleh Pura yang keberadaannya sangat keramat.Dalam perkembangan sejarah selanjutnya nama “ Batu Sari “ pada jaman penjajahan Belanda diganti dengan nama “ Seri Batu “ karena Belanda mengeluarkan peraturan tidak boleh masing – masing KK memiliki dua daerah domisili yang terpisah antara di Seribatu dengan Gunung Sari, maka terpaksa dibagi dua yang kemudian di Gunung Sari terdapat  ayah gede dan diSeribatu  terdapat 33 ayah gede + 8 ayah karang. Selanjutnya setelah Jero Gede Altan menguasai daerah Batu Sari kemudian diutuslah masyarakatnya untuk menuntut bagian ke Batur . Oleh pejabat Desa Adat  Batur ketika itu diserahkan tanah berupa Laba Pura di Tirta Mampeh dan sebagian ( separoh ) gong peturun bernama Batu Sungkeb Keben dalam bentuk bebonangan, dan sebagai bukti yang nyata masih ada sampai sekarang bahwa adat istiadat yang berlaku di Desa Adat Seribatu sama dengan yang ada di Batur sekarang.

5 Dusun / Banjar Mancingan

                Bukti autentik mengenai sejarah asal usul Dusun/ banjar Jeruk  Mancingan  sampai sekarang belumdidapatkan fakta yang cukup meyakinkan untuk percaya sebagai sumber / data penunjang namun berdasarkan informasi yang berhasil penulis pantau dari penuturan seorang yang cukup tua bernama I Wayan Rieg  ( Mantan Bendesa Adat Jeruk Mancingan ) menceritakan bahwa pada waktu kerajaan Bangli  diperintah oleh I Dewa Gede Alit terjadi pertentangan antara Kerajaan Bangli dengan Kerajaan Gianyar . Dimana Kerajaan Bangli ingin merebut daerah kekuasaan Kerajaan Gianyar bagian Utara yaitu termasuk daerah Tampaksiring , namun maksud tersebut belum terwujud karena Kerajaan Tampaksiring keadaannya cukup kuat . Kemudian waktu itu pula terjadi perselisihan bahwa antara Meke l Manukaya  dengan Mekel Dusun / Banjar Mancingan Gianyar yang bernama “ I Made Rendeh  “, Ia merasa kurang puas dengan Mekel  Manukaya yang suka mengadukan masalahnya kepa Raja Tampaksiring  dan hal itu diketahui oleh Mekel I  Made Rendeh yang membuatnya beliau tersinggung dan melarikan diri untuk meminta perlindungan pada Raja Bangli ( I Dewa Gede Taman ) yang selanjutnya beliau berbalik haluan memihak Raja Bangli dengan diringi oleh 23 KK , warganya serta diberikan tempat tinggal oleh Raja Bangli didaerah perbatasan antara Dusun Kembangmerta ( sebelah Utara ) dengan Songlandak  ( Selatan ) yang selanjutnya daerah ini disebut Mancingan Karena untuk mengenang , bahwa leluhur masyarakat Dusun Mancingan berasal dari Dusun Mancingan Gianyar ( disebelah Timur Tampaksiring sekarang ).   Maksud Raja Bangli menempatkan I Made Rendeh anak buahnya di daerah perbatasan tersebut adalah untuk  memudahkan melakukan serangan kepada Raja Tampaksiring , karena kenyataannya Raja Tampaksiring cukup kuat maka tetap Tampaksiring tidak bisa dikuasai selanjutnya karena di Dusun Mancingan wilayahnya sangat sempit  ( sudah kepenuhan ) maka oleh Raja Bangli diberikan daerah di Jeruk . Itulah sebabnya sekarang ada dua Jeruk Utara wilayah Desa Penglumbaran. Dengan demikian walaupun letaknya sekarang terpisah antara Mancingan dengan Jeruk tetapi merupakan satu Desa Adat yang selanjutnya lasim disebut Dusun Jeruk Mancingan .

  1. Dusun / Banjar Maletgusti

                Secara Geografis pada mulanya Dusun / Banjar  Maletgusti  merupakan satu daerah dengan Malettengah  ( Malet Gede ), Malet Kutemesir dan Malet Delod ( Malet  wilayah Desa manukaya )  secara etimologi kata Malet berasal dari kata “ Air Malet “ dengan bukti historis diketemukannya sebuah Lingga yang bergambarkan dua telapak kaki dan terdapat di Pura Penataran  Malet Gede  ( Tengah )  Desa Tiga sekarang . Mengenai arti dari tulisan ini sampai sekarang belum ada informasi bisa menterjemahkan utamanya dai Dinas Purbakala . Oleh karena itu Pura Puseh yang ada di Dusun Maletgusti  sekarang sebenarnya dimiliki  oleh Tiga wilayah Dusun Malet tersebut , sebab dusun Malet Gede tidak ada Pura Pusehnya. Namun jika ditinjau dari sejarah leluhurnya masyarakat Maletgusti mempunyai sejarah tersendiri . Berdasarkan informasi  yang  berhasil penulis dapatkan dari orang tua yang bernama  I Dewa Aji Soka , I Gusti Nyoman Mangku , I Dewa Nyoman Ngurah serta I Gusti Merta ( tokoh masyarakat )  bahwasannya awal mula asal mula asal leluhurnya adalah beasal dari  Puri Pemecutan  Denpasar yang  diutus oleh  Raja Denpasar  untuk menjadi Patih di Taman Bali  yang bernama  I Gusti made Cerancam yang mengikuti adiknya  yang diambil oleh Raja Taman Bali   Beliau merupakan salah seorang tokoh seni yang mengajarkan  kesenian di Kerajaan Tampaksiring sampai mendapat hadiah berupa seorang  wanita yang tidak begitu cantik . Selanjutnya beliau oleh Raja  Tamanbali diutus sebagai Patih di Asti. Setelah berada di Asti Raja Tampaksiring merasa iri hati terhadap beliau karena punya istri cantik. Oleh karena itu Raja Tampaksiring  membikin siasat dengan menyewa Pasek Trunyan untuk membunuh beliau.Usaha tersebut berhasil  dan beliau   dikuburkan ( dipendam ) dan meninggalkan  dua orang putra yaitu I Gusti  Putu Merta dan I Gusti Ayu Made Sari. Selanjutnya asti ditaklukan oleh I Gusti Panji Maruti ( Buleleng ) dan mengungsilah beliau ke Dusun Buungan ( Desa Tiga sekarang ) dengan berbekalkan buah wani yaitu sesuai dengan isyarat yang diterima ketika di Asti dimana berjumpa tanah warna merah disanalah wani itu ditanam sehingga  tumbuhlah pohon wani yang umurnyapun sudah cukup  tua yaitu di Pura dalem Pingit Buungan sekarang.

Dalam pelarian ini kedua kakak beradik  diiringi oleh 200 panjak  ( yang sekarang lasim disebut gebog satak ) dan selanjutnya karena di Buungan sudah penuh maka Raja Bangli  ( I Dewa Ayu Den Bencingah ) memberikan Daerah di Tiga sekarang . Dalam perkembangan selanjutnya  I Gusti Ayu Sari tidak punya Putra sedangkan  kakaknya I Gusti Putu Merta  punya dua orang putra yang masing – masing bernama  I Gusti Ngurah Bebed dan adiknya I Gusti  Ngurah Gede , yang tetap tinggal di Desa Tiga . Selanjutnya karena di Desa Tiga juga kepenuhan, maka oleh Raja Bangli  ( I Dewa Gede Taman ) diberikan  I Gusti Ngurah Bebed dengan warga berjumlah 7 KK  daerah wilayah yang terletak disebelah Barat Dusun Seribatu. Dari 7 KK penduduk yang menyertainya itu adalah :  I Gusti Made Tinggal, I Gusti Putu Giri, I Gusti Ngurah Rantun, I Gusti Putu Sek, I Gusti Made Darma, I Gusti Nyoman Tunas dan I Gusti Made Tuun. Dan terkhir datanglah warga dari kelompok kesatria keturunan I Dewa Kandel Pemayun dari Puri Pejeng yang semula pindah pemukimannya di Manik Tawang Tampaksiring  yang bernama I Dewa Gede Laca. Begitu  I Dewa Gede Laca menghadap  Raja  Bangli untuk memperoleh tempat pemukiman baru diberikan tempat di Tiga  ( yaitu tempat balai dusun sekarang ).Dan oleh I Dewa Gede Laca tidak diterimanya.Akhirnya Raja Bangli  I Dewa Gede Laca untuk pergi ke Barat Laut di tempat  pemukiman  7 KK, yang dipimpin  : I Gusti Ngurah Bebed , karena I Dewa Gede laca satu – satunya kesatria ditempat itu oleh Raja Bangli  ditugaskanlah beliau sebagai pengerajeg ( penegak Dusun Maletgusti ) dan diangkatlah sebagai Kepala Dusun / Banjar . Kenyataan sekarang karena mayoritas penduduknya dari Warga Gusti masih tetap mengikuti adat istiadat Tiga dan kesatrianya masih tetap mengikuti adat istiadat Pejeng.

 

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)
Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)
CAPTCHA Image
Isikan kode di gambar